MAKASSAR , PB — Perjalanan H. Badris Salam menuju bursa calon Ketua DPD REI Sulawesi Selatan bukan lahir dari kemewahan, melainkan ditempa dari lapangan. Lahir di Sinjai, 28 Agustus 1975, ia menapaki karier dari buruh bangunan, tukang, mandor, hingga subkontraktor sebelum akhirnya menjadi pengembang properti.
Bermodal pengalaman bersama pamannya yang berprofesi sebagai kontraktor di Makassar, Badris perlahan memahami seluk-beluk konstruksi. Tahun 2007 ia mulai melangkah menjadi pengembang dengan skema kerja sama kepemilikan lahan — pemilik menyediakan tanah, ia membangun, lalu hasil penjualan dibagi. Langkah awal ini menjadi fondasi sebelum PT Bumi Pundi Karsa didirikan pada 2013.
Namanya teruji saat proyek perumahan komersial di Sinjai tahun 2012 tak laku sesuai harapan. Hampir dua tahun tanpa pemasukan, modal tertahan, hingga saran Bank BTN Syariah mengubah arah: beralih ke rumah subsidi. Keputusan itu menyelamatkan usahanya dan membuka peluang ke wilayah lain — Bone, Bulukumba, Bantaeng, Maros, Gowa, hingga Palopo.
Kini grup usahanya mengklaim telah membangun sekitar 15.000 unit rumah subsidi dan 1.000 unit komersial, dengan kontribusi segmen subsidi sekitar 70 persen. Salah satu proyeknya, Bumi Findaria Mas 2 di Maros, meraih Silver Award perumahan subsidi terbaik kedua tingkat nasional tahun 2025.
Di luar bisnis, Badris aktif memimpin organisasi — termasuk terpilih Ketua Umum JKOC 2024–2027. Kini namanya masuk bursa calon Ketua DPD REI Sulsel periode 2026–2029, dengan klaim dukungan dari mayoritas anggota. Ia mengusung visi menjadikan REI wadah yang merangkul pengembang besar, menengah, hingga pemula, serta memperjuangkan akses pembiayaan dan likuiditas pelaku usaha kecil.
Tiga prinsip ia pegang: kerja keras, memperluas jaringan, dan keikhlasan. “Keberhasilan lahir dari proses, bukan kebetulan,” ujarnya. Dari Dusun Bulu-bulu hingga memimpin ribuan unit perumahan, kisah Badris membuktikan bahwa ketekunan dan kemampuan beradaptasi adalah jalan menuju kesuksesan.



















