MANDAILING NATAL , PB – Pengakuan resmi adanya ulat dalam makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disajikan kepada siswa menjadi fakta yang tidak bisa diputarbalikkan. Muhammad Saleh, Bendahara SATMA AMPI Mandailing Natal, menyatakan bahwa insiden ini bukan sekadar masalah kecil melainkan kegagalan fatal yang mencoreng program negara dan membahayakan kesehatan pelajar.
“INI BUKAN LAGI KELALAIAN. INI ADALAH BENTUK PEMBIARAN YANG MENGARAH PADA KEJAHATAN TERHADAP KESELAMATAN ANAK,” tegas Muhammad Saleh.
Menurutnya, kemampuan makanan berulat untuk lolos dari dapur, pengemasan, hingga sampai ke tangan siswa menunjukkan bahwa sistem pengawasan tidak berjalan, atau sengaja dibiarkan rusak. Untuk itu, pihaknya menyampaikan sejumlah sikap dan tuntutan:
1. TUTUP TOTAL dapur MBG Panyabungan Panggorengan sekarang juga. Tidak ada kompromi untuk dapur yang gagal menjamin kelayakan makanan anak.
2. Copot dan evaluasi seluruh penanggung jawab SPPG. Jangan lindungi pihak yang lalai. Lakukan investigasi terbuka, bukan sekadar klarifikasi di atas kertas. Turun ke lapangan, uji dapur, bongkar fakta.
3. Satgas MBG jangan hanya jadi penerima laporan. Jika tidak mampu bekerja, lebih baik dibubarkan.
4. Pemerintah daerah harus bertindak tegas. Diam berarti ikut bertanggung jawab.
Kami mengingatkan bahwa program ini menyasar anak sekolah, bukan objek percobaan dapur kotor. “Jika hari ini ulat bisa masuk ke makanan siswa dan dianggap hal sepele, maka besok bukan tidak mungkin yang terjadi adalah keracunan massal,” ucapnya.
Pihaknya menegaskan tidak akan menunggu korban berikutnya. Apabila tuntutan ini diabaikan, SATMA AMPI Mandailing Natal memastikan akan turun langsung dengan aksi terbuka dan membawa persoalan ini ke tingkat yang lebih tinggi.
“Jangan beri makan anak-anak dengan kelalaian. Tutup dapur bermasalah, sekarang juga!” pungkasnya.
(Magrifatulloh)













