Belasan Tersangka Teroris Makassar Dibawa ke Jakarta, Dua Tewas

Proses pemberangkatan terduga teroris Makassar yang dikawal ketat aparat kepolisian. (ist)

Makassar, Pedulibangsa.co — 19 orang terduga teroris yang diamankan Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Polri di Makassar, Sulawesi Selatan, hari ini diberangkatkan ke Jakarta dari, Kamis (4/2/2021).

Pemberangkatan para tersangka dilakukan melalui jalur udara dengan menggunakan pesawat Lion Air di Bandara Lama, Mandai Kabupaten Maros.

Dalam perjalanan sebelum tiba di Bandara, para tersangka teroris yang diringkus awal Januari 2021 lalu ini, dibawa dengan menggunakan 3 bus Brimob Polda Sulsel. Selain berada didalam bus, anggota Densus 88 Anti Teror, dan Brimob Polda Sulsel melakukan pengawalan ketat dengan menggunakan mobil Rantis.

Kapolda Sulsel, Irjen Pol. Merdisyam kepada awak media di Bandara mengatakan, periode 6 hingga 7 Januari 2021 lalu, Densus 88 Anti Teror Mabes Polri telah menangkap 23 orang terduga teroris kelompok Anshor Daulah Makassar, yang berafiliasi dan pendukung khilafah atau ISIS.

“Dari 23 tersangka teroris ini, 19 diberangkatkan ke Jakarta, 2 diantaranya tewas tertembak saat dilakukan penangkapan karena melakukan perlawanan kepada petugas, 1 dirawat di rumah sakit karena luka, dan 1 lainnya dikembalikan karena tidak terbukti,” ungkapnya.

Jenderal Bintang Dua lantas membeberkan hal baru dalam pengungkapan kasus teroris yang diamankan di Makassar ini. Kapolda Merdi menjelaskan bahwa sebagian dari tersangka merupakan anggota ataupun simpatisan FPI.

“Berdasarkan hasil pemeriksaan tersangka teroris ditemukan fakta bahwa FPI Makassar bersama kelompok Anshor Daulah di Makassar melakukan deklarasi mendukung ISIS dan dilanjutkan dengan “baiat” kepada ISIS,” terangnya.

Selain itu kata Kapolda Merdi, terungkap pula bahwa sebagian dari tersangka yang diamankan merupakan keluarga dari pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Zulu, Filipina, yaitu pasangan suami-istri RZ dan UH.

“Dari hasil pemeriksaan beberapa tersangka ini, ditemukan fakta dan upaya pengiriman uang dari kelompok tersebut kepada RFR alias CICI yang sekarang menjadi tahanan di Filipina, yang merupakan anak dari pasangan pelaku bom bunuh diri Gereja Katedral Zolo, Philipina,” jelasnya.

Tak hanya itu sambung Kapolda Merdi, dari hasil pemeriksaan dan barang bukti yang diamankan, ditemukan fakta bahwa salah satu tersangka AA, telah membuat rangkaian bom berupa rangkaian sistem elektrik push off/push on.

“Seluruh tersangka yang ditangkap akan dikenakan Pasal 15 jo 7 UU nomor 6 tahun 2018, dengan ancaman hukuman maksimal seumur hidup,” pungkasnya. (red)